Bosowa Adventure di Puncak Bulusaraung

Pendakian ini kami lakukan sekeluarga dalam rangka memperingati hari pernikahan kami yang ke 24 serta sebagai wujud cinta kami terhadap Bosowa.

Perjalanan ini berawal dari ajakan dari anak saya kepada ibunya untuk mendaki Gunung Bulusaraung pada bulan Mei 2015 dimana saat itu saya mendapat tugas ke Soroako maka saya tidak memberi izin dan memberi harapan nanti bulan September 2015 baru kita berangkat dengan Keluarga. Setelah Idul Fitri kami bulatkan rencana sambil mempersiapkan diri dan peralatan untuk keperluan pendakian dan Alhamdulillah awal September semua sudah siap dan kami berangkat dari Makassar pada 05 September 2015 jam 08.00 pagi dan tiba di Desa Tompobulu kec. Balocci Kab. Pangkep jam 11.00 (Pos 1), kami memutuskan istirahat sejenak, melakukan registrasi, sholat dzuhur, jam 12.45 WIT setelah doa bersama untuk keselamatan kami memulai pendakian.

Awal pendakian merupakan jalur yang lumayan berat. Dari pos 1 sampai pos 3, memiliki medan yang terus menanjak dan curam. Boleh dibilang tidak ada jalur landai. Kondisi pendakian yang berat membuat istri saya mengeluh karena kewalahan dan bertanya “kapan sampai di Pos?” Namun dijawab oleh anak saya & Tim Posnya tidak lama lagi “Ayo … tante/mama bisa semangat tante/mama“ kata-kata inilah yang terus menyemangatinya. Saya juga sedikit kewalahan karena harus membantu menarik, menahan dia melewati jalur ini. Diapun sangat sering berhenti dan sering minum karena kecapean dan kehausan.

Untuk mencapai pos 4 sampai 9, medannya tidak sesulit sebelumnya, bergantian kadang menanjak kadang landai. Di pos 8 terdapat menara pemantau kamipun menyempatkan untuk mengambil gambar.

Kira-kira pukul 16.20 kami tiba di pos 9. Lalu mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Setelah istirahat kami treking menuju puncak. Kurang lebih 30 menit kami tiba di puncak (1.353M.DPL), sambil mengucap “Alhamdulillah terima kasih ya Allah“ rasa lelah dan letih seolah sirna semua terbius oleh keindahan panorama alam yang menakjubkan. Kamipun mengambil gambar dan membentangkan spanduk Bosowa Untuk Indonesia.

Menjelang gelap, kami harus bergegas turun karena tiupan angin yang sangat kencang seakan badan bergoyang ditiup angin, pendaki yang lainpun sudah banyak yang turun, Utung kami bawa senter karena di perjalan turun ternyata sudah gelap. Setelah tiba di tenda kami bersih-bersih dengan tissue basah sambil menunggu makanan yang sedang dibuat oleh Tim kamipun menunaikan sholat Maghrib dengan menjamak Isya, setelah makan malam kami langsung istirahat dan tidur, tengah malam kami kaget menyangka hujan ternyata angin bertiup sangat kencang dan dedaunan berguguran menerpa tenda kami, sambil berdoa dan berharap semoga tidak ada pohon yang tumbang.

Sekitar jam 05.00 kami bangun sholat subuh dan membangunkan yang lain untuk bersiap ke puncak kedua kalinya tapi istri melarang maka saya urungkan Tim yang lain tetap melanjutkan. Putri kami yang tidak ikut ke puncak menyiapkan kami sarapan dengan Popmie dan teh hangat. Setelah sarapan kamipun merapikan barang bawaan sambil menunggu tim kembali dari puncak.

Jam 10.00 WIT kami turun duluan biar kami bisa tiba bersamaan dengan Tim karena kami harus membimbing istri & harus ekstra hati-hati jam 12.00 WIT kami tiba di Pos untuk istirahat sejenak dan sholat dzuhur lalu selanjutnya bersiap kembali ke Makassar.

Kami banyak mengambil hikmah dari pendakian ini, kami bukanlah penakluk alam, tetapi kami ingin mengenal alam ini lebih dekat, bahkan bersahabat dengannya karena berbagi waktu dengan alam kita akan menemukan siapakah diri kita sebenarnya, Mendaki juga sebagai sarana untuk mengagumi kemahakuasaan Allah karena Dialah yang menjadikan bumi sebagai rezeki bagi kita semua. Pesan bijak keberhasilan pendakian bukan pada saat anda berhasil menaklukkan puncak, tapi saat kita tiba di rumah dengan selamat dan tidak kurang satu apa pun “Alhamdulillah segala puji hanya untukMu ya Allah“.